Pasang Keling Kepung Kota Dumai


Wasiatriau – Air laut sudah biasa masuk menggenangi rumah warga, hampir setiap bulan ketika pasang naik, Namun kali ini air laut sempat membanjiri Kota Dumai, Pasalnya terjadi pasang keling ( red ). Demikian pantauan wasiatriau di lokasi banjir, kemarin ( 19/9 ).

Pasang keling merupakan istilah lokal yaitu memuncaknya pasang naik, biasanya terjadi setahun sekali.

Salah satu tokoh masyarakat Kota Dumai yang tidak mau disebut namanya mengatakan pada wasiatriau, pasang naik dan pasang surut disebabkan sistem peredaran bulan. Katanya singkat.

Nada yang sama juga dikatakan nasir, beliau salah seorang nelayan tradisional Dumai, ” Pasang naik atau air besar istilah nelayan lokal dalam satu bulan sebanyak dua kali begitu juga pasang surut atau air kecil (red ) istilah nelayan terjadi dua kali setiap bulannya. Ujar beliau.

Sambung lelaki paruh baya itu lagi menjelaskan, bahwa air besar ketika pada penanggalan bulan arab ( red ) atau bulan Hijriah bertepatan tanggal satu (1) hari bulan selama tiga hari dan pada tanggal tiga belas sampai lima belas hari bulan atau disebut bulan purnama atau bulan terang, begitu juga sebaliknya, air pasang surut atau air kecil mulai  tanggal 20 hari bulan dan sekitar tanggal 10 hari bulan, biasa nya saat itu disebut air mati, istilah bagi para nelayan. Terang Nasir dan diamini oleh teman beliau.

Lanjut beliau lagi menerangkan tentang air pasang, makanya kami sebagai nelayan tradisional hanya bisa menangkap ikan atau menjaring kelaut ketika air laut besar saja, karena ikan banyak, tapi kalau air kecil kami terpaksa istirahat, karena laut kurang ikan, bagi nelayan yang tidak ada kegiatan lain, disaat air kecil tersebut mereka biasanya memanfaatkan waktunya membubul jaring yang robek atau memakal kapal pompong yang bocor, Terang beliau pada wasiatriau tentang metode nelayan mencari nafkah tergantung kondisi air laut.

Kembali kepokok permasalahan air laut yang mengepung Dumai, sudah tidak dapat dielakkan lagi, lantaran kondisi tanah Kota Dumai berbentuk kawah, Cekong dan dataran rendah, apalagi tata kelola drenase kota belum sempurna dan masih meninggalkan masalah, begitu apalagi  banyak pembangunan reklamasi untuk membangun pabrik dan gudang disepanjang pantai Kota Dumai, sehingga area pantai lebih tinggi dari daratan,  Itulah penyebab sering banjir. Demikian kata salah satu warga Dumai.

Lanjut anak muda ini menjelaskan, kebetulan beliau berpropesi sebagai salah satu pegawai PU Kota Dumai mengatakan, Banjir kota Dumai sulit untuk diatasi saat ini karena kondisi geografis Kota Dumai itu sendiri, hanya bisa untuk mengurangi banjir, jika pun untuk menuntaskan persoalan banjir Kota Dumai perlu perencanaan matang tentang Program Drainase Kota dan tentu menelan biaya yang besar pula, sementara anggaran Kota Dumai kecil dan sering di pangkas. Terang beliau yang tidak mau disebutkan namanya.

Permasalahan Dumai tidak jauh bedanya dengan kota Jakarta saat ini. Sementara Jakarta banyak anggaran belanja  saja masih sulit mengatasinya  sampai saat ini banjir masih menghantui Kota Jakarta. Ujar beliau mencontohkan persoalan banjir pada kota yang struktur tanahnya rendah.

Memang kota Dumai dahulunya tidaklah separah sekarang, karena dulu Dumai belum banyak pembangunan gedung, pabrik dan gudang, parit kampung dan sungai masih banyak, air hujan masih lancar pengairan air kelaut, persediaan hutan masih cukup menampung air hujan, tapi sejak hutan sudah gundul dan banyak proyek  pembangunan pabrik dan gudang di pinggir pantai, akibatnya banyak parit warga yang menembus ke laut ditutup perusahaan menjadi lahan pembangunan mereka, sehingga parit warga makin kecil dan ada yang tertutup.

Apalagi kondisi panas global semakin meningkat, kononnya gara gara banyaknya rumah kaca, hutan sebagai paru paru Dunia semakin habis, kerusakan lingkungan, Polusi udara, kerusakan tersebut membuat alam makin tidak stabil lagi, terjadi pamanasan global akibatnya glater es kutub utara mencair, jutaan milyar kubik es yang selama ini membeku baik di laut maupun daratan kutub mencair, tumpah kelaut, sehingga air laut semakin tinggi, dampaknya bagi dataran rendah yang berada dipesisir pantai akan tenggelam, karena permukaan air laut lebih tinggi dari daratan. ( aba )