Virus Jembrana, 200 Ekor Sapi Mati.


Wasiatriau.Com.Siak // Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Siak, Propinsi Riau, Muhammad Wahiduddin menyatakan, saat ini lebih dari 200 ekor ternak sapi bali yang dikembangkan di Wilayah setempat mati mengenaskan, akibat serangan virus jembrangan atau parasit darah.

Untuk itu, ia mengatakan daerah Kabupaten Siak positif dinyatakan sebagai daerah yang terkontaminasi virus jembrana, bahkan pada bulan November 2013 lalu, Direktorat Jendreral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Republik Indonesia juga menyatakan, Kabupaten Siak adalah daerah terakhir yang terinfeksi virus jembrana.

Sebenarnya sudah tujuh  Kabupaten yang ada di Riau terlebih dahulu tertular virus Jembrana,. Ujar Muhammad Mahiduddin, Jumat ( 20/1).Demikian ucap beliau beberapa hari lalu.

Masih ucapan beliau menyebutkan, pada akhir November dan hingga Desember 2013 lalu, sebanyak 30 ekor sapi positif diserang virus jembrana.

Sementara diprediksi masih banyak sapi mati akibat virus jembrana yang tidak terlapor, secara tidak langsung sangat berdanpak pada produksi dan populasi sapi di Siak. Ujarnya

Untuk mengantisipasi penyebaran virus jembrana tersebut, pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Siak sudah melakukan langkah pencegahan dengan memberi vaksin ke ternak yang belum terkena virus untuk mengurangi gejala, terutama di Daerah yang dianggap Endemik.

Lanjut beliau lagi, ini bukan penyakit yang hanya terjadi di Siak saja, melainkan hampir di seluruh Kabupaten yang ada di Riau, bahkan Propinsi lain juga ada yang menngalami serangan virus tersebut. Ujar Muhammad

Masih ucapan beliau menjelaskan, gejala umum sapi bali terkena penyakit virus jembrana, diantaranya masa inkubasi 4 hingga 12 hari disertai tanda tanda suhu tubuh meningkat hingga 42 darejat Celsius, Diare yang bercampur darah, terjadi pembekakan pada kelenjar, Limfeprescapularis, Prefemoralis dan Parotis, terlihat adanya bercak darah pada kulit, lesu dan tidak mau makan, hingga kematian mendadak.

Sementara itu untuk mengurangi resiko terkena penyakit jembrana, dengan cara mengkarantina sapi bali sakit atau memisahkan ternak yang masih dalam konsdisi sehat, Pembakaran terhadap kotoran yang tercemar yang menjadi tempat hidup lalat ( vektor), selain itu dengan cara pembersihan kandang dengan melakukan penyemprotan desinjfeksi dan peralatan kandang, seperti makan dan minum. Demikian terang beliau menjelaskan. (aba)