Banjir Kiriman Rendamkan Kebun Warga


Ilustrasi hutan
 Wasiatriau.com – Kota Dumai memiliki keistimewaan terkait banjir, kenapa tidak, sebab hampir setiap setengah bulan sekali  kota dumai di sekitar peisir pantai sering digenangi air laut saat pasang naik  begitu juga didarat pemukiman warga,tak luput di degenangi air kiriman dari hutan saat tiba musim hujan.

Seperti yang terjadi saat ini, Sabtu (18/11) kemarin,air kiriman dari hutan mengenangi kebun dan rumah penduduk dibeberapa kelurahan Kecamatan sungai sembilan.

Berdasarkan informasi dilapangan, arus air kiriman dari darat itu mengalir cukup deras merambah kebun warga, namun syukurlah air banjir tu, belum sampai menghanyutkan rumah warga sekitar yang terendam banjir. Sementara bangunan  rumah warga masih banyak yang belum permanen, diantaranya rumah itu ada beberapa rumah yang sudah tidak layak huni, rumah papan bertongkat tiang kayu, namun sudah hampir roboh.

Rahman,  salah seorang warga setempat mengatakan pada saat musim  hujan  tiba, kebun  sawit beliau sering  tergenang air hujan,katanya air kiriman itu menggenangi lahan kebun sawit dan rumah warga bisa sampai dua hari baru surut. maka selama itu, beliau tidak bisa berbuat apa apa sebab menguras  air menggenang  masuk rumah. Ujarnya

Berdasarkan geografis Kecamatan sungai sembilan merupakan areal kawasan hutan, puluhan ribu hektar hutan perawan berdiri disitu,namun seiring perkembangan zaman hutan perawan itu sudah beralih fungsi nya menjadi hutan tanaman dan lahan  kebun sawit.

Pada tahun 1995 HPH tanaman PT.Suntara Gajah Patih (SGP) berdiri, Berdasarkan dari permohonan perusahaan itu dan ditaksir masuk diara kecamatan Bangko kabupaten bengkalis.Luas lahan 48.880 Ha namun terdapat juga lahan lindung gambut seluas 12.600 Ha. Namun Setelah ditelaah kantor wilayah kehutanan dan Perkebunan Provinsi Riau, tettanggal 7 Februari 2000 bahwa calon HPH tanaman PT.SGP berada diareal kecamatan bukit kapur kota madya Dumai.

Bukan PT SGP yang berdiri di areal hutan tersebut, Masih ada beberapa perusahan lagi yang membuka lahan perkebunan dan serta lahan kebun sawit warga masyarakat. Puluhan ribu hektar hutan murni yang telah digarap, akhirnya saat ini tidak ada lagi hutan yang tersisa.

Ditempat terpisah, ketika dihubungi camat sungai sembilan, Zulkarnain melalui seluler nya, beliau belum dapat informasi terkait air kiriman yang menggenangi kebun serta rumah warga. Kata Beliau coba  meminta  informasi dari salah satu lurah yang daerah nya terpendam air hujan yang berasal dari air kiriman itu. Demikian ujarnya .(aba)***