Tokoh senior berkomentar, kita akan menggali batang terendam


Wasiatriau.con – Salah satu personil wartawan media online wasiat Riau, Hangtuah berpesan dengan kekawan masyarakat Riau, agar mengenang jasa pejuang Datuk nenek terdahulu yang telah berjuang dengan keringat dan air mata malah berkorban harta dan nyawa demi mempertahankan Marwah masyarakat Melayu.

Meskipun usia sudah beranjak senja namun semangat tetap tegar dan ulet tidak pernah lentur dan kendur jika berbicara tentang sejarah dan adat istiadat budaya negeri Melayu Riau ini. Ujar wartawan senior tersebut.

Darah seni terlihat mengalir dalam jiwanya,Pasalnya dari rentang waktu perjalanan, banyak beliau mendapat pengalaman di lapangan, apatah lagi jika mendengar suara merdu saat  beliau mendendangkan lagu P.Ramli dan lagu Tempo dulu.

Berlayar sudah pun sampai ke ujung pulau,sedangkan ranting ditepian, muara semakin rapuh, katanya Lagi. senonim pribahasa ini sangat mengenak sekali, ” yang pipih tak kan datang melayang, yang bulat tidak kan datang mengolek, karena ia bagaikan burung gagak lodra, yang terbang jauh tinggi di awan, dan tidak dapat menoleh kebawah lagi, tentu Merasa kegamangan, “, ujarnya penuh makna falsafah. 

Sedang kini Jeritan kami tidak dapat didengarkan lagi.”  Ibaratkan anjing menggonggong,kafilah tetap berlalu”

“Ibaratkan air yang impas kering tanpa tetesan”karena berjalan terlalu menorek enggan untuk menoleh ke belakang.  Sabdanya dan didampingi oleh Budi.

Pesan sabda pepatah kuno tempo dulu, ” Wahai saudara ku..! Berbuat baiklah berpada padan, berbuat jahat jangan sekali”, 

lanjut beliau lagi ” kalau berjalan biarlah ditempat yang terang, jangan ditempat yang gelap,nanti terpijak lubang”, Demikianlah kata Hangtuah wartawan senior yang menggelarkan dirinya wartawan picisan.  (WR.hangtuah)**