Mesjid Raya Pekanbaru, Mesjid Tertua Dibangun Oleh Raja Alam Tahun 1726 M

Mesjid Nur Alam Pekanbaru

WR.com – Sempena Haul Marhum Pekan yang dilaksanakan LAMR Kota Pekanbaru, hari Senin (19/11/2018). Sontak menjadi perhatian masyarakat Pekanbaru. Pasalnya helat haul marhum pekan tersebut baru pertama dilaksanakan.

Sementara Pemerintah Kota Pekanbaru setiap tahun melaksanakan Hari Ulang Tahun ( HUT) Kota Pekanbaru tersebut. sedangkan HUT kota pekanbaru hakekatnya tidak terlepas dari mulai berdirinya pekanbaru itu sendiri.

Meskipun sebagian masyarakat Pekanbaru juga mengetahui bahwa yang mendirikan pekanbaru tersebut adalah Raja ke 4 Kerajaan Siak Sri Indrapura,yang bergelar Sultan Abdul Jalal Alamuddin Syah dan diteruskan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, sebagai raja ke 5.

Dengan dilaksanakan haul marhum pekan oleh LAMR Kota Pekanbaru, maka akan membuka tabir sejarah Kota Pekanbaru untuk bisa diketahui oleh masyarakat pekanbaru khususnya.

 

Sebagai bahan informasi untuk mengenang sejarah kota pekanbaru tersebut,  Awak media wasiatriau.com mengajak para pembacara sejenak melihat kemasa lalu, masa kegemilangan kerajaan Siak Sri Indrapura membuka pekanbaru tersebut. dengan membangun tiga pilar yaitu Istana Raja, Balai Kerapatan Adat dan Mesjid.

Berdasarkan informasi yang dapat dirangkum,   Mesjid raya Pekanbaru dibangun pada abad ke 18, yaitu tahun 1762 sehingga menjadi mesjid tertua di Pekanbaru.

Mesjid raya pekanbaru tersebut terletak di Jalan Senapelan Kecamatan Senapelan, memiliki arsitektur tradisional. Kenapa tidak, sebab dilihat dari fisik bangunanya sangat kental dengan nuansa budaya melayu.

Mesjid yang juga merupakan bukti Kerajaan Siak Sri Indrapura pernah bertahta di Pekanbaru (Senapelan) yaitu di masa Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah sebagai Sultan Siak ke-4 dan diteruskan pada masa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai Sultan Siak ke-5.

Sejarah berdirinya mesjid raya Pekanbaru dikisahkan di masa kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Beliau memindahkan pusat kerajaan dari Mampura ke Senapelan, saat ini Pekanbaru, dan menjadikan senapelan sebagai pusat kerajaan Siak Sri Indrapura.

Sudah menjadi adat Raja Melayu saat itu, pemindahan pusat kerajaan harus diikuti dengan pembangunan “Istana Raja”, “Balai Kerapatan Adat”, dan “Mesjid”. Ketiga unsur tersebut wajib dibangun sebagai representasi dari unsur pemerintahan, adat dan ulama (agama) yang biasa disebut “Tali Berpilin Tiga” atau “Tungku Tiga Sejarangan”.

Diketahui, setelah dirancang dimana lokasi, bentuk fisik bangunan dan waktu yang tepat dibangun, sesuai adat istiadat dalam kerajaan, permasalahan dalam negeri dibawa ketengah  pada musyawarat berdasarkan titah raja dan dihadiri sejumlah orang orang besar kerajaan, Dengan arif dan bijaksana setelah mendengar usul dan saran sebagai bahan pertimbangan menjadi sebuah keputusa ” titah Raja ” .  Akhirnya pencanangan pembangaunan ketiga bangunan tersebut di mulai pelaksanaanya pada penghujung tahun 1762 M.

Bangunan istana diberi nama “Istana Bukit” balai kerapatan adat disebut “Balai Payung Sekaki” dan mesjid raya diberi nama “Mesjid Alam” ( mengikut kepada nama kecil sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah yaitu Raja Alam).

Pada tahun 1766, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah mangkat dan dimakamkan diatas bukit senapelan, sehingga raja ke 4 tersebut dikenal dengan gelar ” Marhum Bukit ”

Dengan telah mangkatnya Sultan Alamuddin Syah, sesuai adat istiadat kerajaan melayu, secara otomatis kepemimpinan kerajaan berpindah kepada ananda putra Raja, maka disaat itu secara resmi mendaulat puteranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai raja ke 5, kerajaan Siak Sri Indrapura.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1766 -1779), wilayah Senapelan berkembang pesat dengan aktivitas perdagangannya. Para pedagang datang dari segala penjuru. Maka untuk menampung arus perdagangan tersebut, dibuatlah sebuah “pekan” atau pasar yang baru, pekan yang baru inilah kemudian menjadi nama “Pekanbaru” sekarang ini. Demikian Pantauan awak media dilokasi. (aba)