Caleg Bagikan Kubah Mesjid Saat Kampanye Terancam Penjara


WR.com- (DMI) Beginilah nasib caleg jika tidak memahami peraturan kampanye, meskipun niat baik membagikan kubah mushalla saat kampanye, ternyata bakal terancam penjara dan denda 24 juta rupiah.

Berdasarkan informasi yang dapat dirangkum dilapangan, 3 orang caleg dari salah satu partai yang sama terancam pidana maksimal 2 tahun dan denda 24 juta rupiah.

Diketahui salah seorang Calon legislatif DPR RI salah satu partai diduga melakukan pelanggaran kampanye berupa pemberian materi lainnya yang memiliki nilai dalam bentuk kubah masjid di Desa Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.

Salah seorang komisioner Bawaslu kota Dumai Agustri membeberkan kronologi kasus dugaan pelanggaran yang termasuk kategori money politic ini. Bermula dari kampanye salah seorang caleg pada 25 Oktober lalu.

“Di STTP nya, kampanye dimulai pukul 14.00 – 16.00 WIB, dan dalam kampanye tersebut terduga melakukan orasi kepada masyarakat sekitar,” ungkap Agustri, Selasa, 20 November 2018.

Dalam orasi tersebut, terduga berkampanye akan memberikan kubah masjid terhadap mushalla yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan.

“Dan kubah ini juga ada di tengah-tengah masyarakat itu, setelah acara kemudian ada serah terima kubah tersebut,” tambahnya.

Dugaan ini, kata Agustri, didasari Pasal 523 dan 521 junto 280 ayat 1 huruf j Nomor 7 tahun 2017, yang pidananya maksimal 2 tahun, denda Rp 24 juta.

“Ini yang kita proses bersama Gakkumdu dan sejauh ini kita sudah menetapkan tiga orang terduga dan saat ini sudah dalam tahap pembahasan kedua,” tutupnya.

berdasarkan informasi, ketiga terduga adalah Caleg DPR RI Dapil 1 inisial IH, Caleg DPRD Riau FS, dan salah seorang Caleg DPRD Dumai Ys.

Ditempat terpisah, Berdasarkan pantauan dilapangan, ramainya caleg diduga telah melanggar peraturan kampanye, seperti pemasangan alat peraga kampanye di pinggir jalan umum yang bukan dari KPU, pembagian sembako.

Malah ada yang telah bergerak merekrut calon pemilih dengan mengumpulkan KTP dan KK, baik yang dilakukan caleg yang bersangkutan maupun melalui tim sukses yang ditunjuk oleh calaon tersebut, namun mereka diduga akan melakukan gerakan money politik kepada calon pemilih yang mereka rekrut, berbagai modus Modus money politik yang mereka lakukan dan jumlah nominal money politik juga berbeda beda,

Gerakan money politik tersebut bukan rahasia umum lagi, namun tidak terlihat jika tidak dipantau dengan teliti oleh penyelenggara pemilu, apalagi jika kurang informasi pendidikan politik yang diterima oleh masyarakat, mereka menganggap membagikan uang oleh caleg tidak dianggap melanggar aturan dan itu dianggap mereka sebagai uang pengganti kerja satu hari di saat hari pemilihan. Demikian pantauan awak media dilangan. (aba)