Beranda Hukrim 113 Napi Lapas Kelas II A Banda Aceh Kabur, Baru 12 Orang...

113 Napi Lapas Kelas II A Banda Aceh Kabur, Baru 12 Orang Sudah Tertangkap Kembali.

Wasiatriau.com – ( Banda Aceh ) Hampir setiap tahun mendengar narapidana (napi) melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan (lapas).
Seperti yang terjadi di lapas kelas II A Banda Aceh, sebanyak 113 Nara pidana kabur, pada kamis malam, sekitar pukul 18.30 wib. (29/11/2018)


Berdasarkan informasi yang dapat dirangkum, 12 narapidana sudah dapat ditangkap kembali dan saat ini sudah diamankan pihak berwajib.

Diketahui para tahanan kabur dengan cara menjebol pagar ornamen pemisah kantor utama dengan blok atau taman kunjung

Keterangan tertulis dari Ditjenpas, Jumat (30/11/2018), para narapidana kabur ketika beberapa warga binaan meminta melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Namun, waktu beribadah tersebut telah dimanfaatkan oleh beberapa narapidana untuk memprovokasi narapidana lainnya untuk melarikan diri di Lapas Kelas II A Banda Aceh.

Kejadian diawali dengan cara narapidana membawa barbel untuk membobol kawat ornames depan klinik Lapas. Kemudian narapidana lari ke arah pintu akses P2U, namun karena pintu akses P2U terkunci, sehingga narapidana melewati aula dan ruang kerja Lapas.

“Selanjutnya dengan barbel dan benda tumpul lainnya mendobrak besi tralis jendela ruang aula dan ruang kerja yang menghadap keluar Lapas.

Selanjutnya narapidana keluar melarikan diri,” kata Humas Ditjenpas Ade Kusmanto dan Rika Apriyanti dalam keterangan tertulis.

Ditempat terpisah, salah seorang masyarakat menyayangkan atas peristiwa yang terjadi di lapas kelas IIA Banda Aceh tersebut. Seharusnya hal itu tidak terjadi jika saja petugas lapas kelas IIA menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai tupoksinya. Ujar herman.

Katanya lagi, jika benar apa yang disampaikan Ditjenpas, kemana petugas lapas saat itu, sempat dibiarkan warga binaan tersebut memprovokasi yang lainnya dan kabur, kenapa tidak dijaga saat mereka melakukan aktivitas diluar jadwal yang ditentukan. Terang beliau agak sedikit nada bertanya.

Memang setiap tahun ada saja kejadian kita saksikan di dalam lapas, ada bandar narkoba yang mengendalikan perdagangan barang haram dari balik jeruji, ada juga didalam lapas narkoba bebas beredar, hal itu tertangkap saat petugas sidak dalam lapas.

Lain halnya lagi akibat didalam lapas over kapasitas, berbuntut aksi demo dan membakar lapas,

Diketahui kondisi sejumlah lapas terjadi over kapasitas sementara petugas lapas tidak berbanding lurus dengan jumlah narapidana yang ada didalam lapas tersebut. Sehingga petugas lapas terpaksa menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sudah seharusnya pemerintah melalui kementerian Menkum dan HAM penambahan personil lapas dan menambah bangunan fisik lapas baru serta sarana dan prasarana lapas.

Dengan demikian, lapas tempat warga binaan menjadi terjamin dan benar benar terbina sesuai harkat mereka sebagai manusia. (aba)