Mak mak Selfi 2 Jari, Isyarat Dukungan


Wasiatriau.com – Trend Mak mak Selfi sambil mengacung nomor 02, bukan saja saat kampanye tapi dimana ada kesempatan Mak mak tetap mengacung dua jari. Demikian saat awak media wasiatriau.com menemui salah seorang mak mak di kediamannya. pada Ahad (17/03).

Pertemuan dengan mak mak tidak direncanakan sebelumnya, hanya kebetulan mampir dirumah mak mak tersebut, seperti biasa kesan kegembiraan dalam suatu acara atau pertemuan selalu diselingi dengan berselfi dengan berbagai gaya dan lucu lucu.

Namun, karena ini tahun politik dan sudah menjadi trend setiap berselfi mereka selalu mengacungkan jari mereka, seperti apa yang dilakukan mak mak yang baru ditemui oleh awak media ini.

Ketika ditanya pada mak mak kenapa angka dua, dengan singkat beliau menjawab, ” senang aja dengan nomor 02 “. sedangkan beliau tidak ikut salah satu tim relawan atau kader partai pengusung Capres, hanya ibuk rumah tangga.

Berdasarkan pantauan dilapangan, bukan saja mak mak yang senang selfi mengacungkan jari, malah Bapak bapak juga saat selfi,  selalu mengacungkan jarinya sesuai selera masing masing.

Entah fakta atau fiktif, Berdasarkan pantauan awak media, dari pengakuan beberapa orang yang ditemui, jika telah berani mengacungkan jarinya saat selfi sendiri atau bersama sama pada saat musim pemilu 2019, besar kemungkinan hal tersebut sebuah tanda bahwa telah menjatuhkan dukungan kepada salah satu calon, baik itu calon legislatif atau DPRD, DPRD Provinsi, DPR-RI, DPD maupun Capres.

Trendi selfi sambil mengacungkan jari malah sudah merambah pada anak anak, mungkin mereka melihat dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya atau kakak dan abangnya.

Pernah suau ketika, rombongan pergi kondangan kerumah temanya, disaat mereka berfoto bersama dengan kedua mempelai, mereka sempat mengacungkan jarinya, namun mereka terlihat tidak kompak saat berpoto menunjukan isyarat dukungannya, sebab ada yang mengacungkan dua jari dan ada juga terselip seorang mengacungkan satu jari. Namun, ini menunjukan sikap dewasa mereka, tidak menjadi perbedaan meskipun berbeda dukungan, budaya hidup demokrasi terkesan lebih dipahami dan lebih dihayati oleh masyarakat dari pada petinggi elit negara ini, mereka terkesan kurang mampu meyakinkan program sang calon, sehingga untuk menutup kelemahan dalam menjual produk sang calon, mereka acap menggunakan cara cara yang salah dan tidak edukatif, seperti money politik,menggunakan fasilitas jabatan dan negara, mencari cari selah kesalah lawan, membangun isu yang tidak benar dan dapat menyesatkan, seperti berita Hoax dan lain sebagainya.

Reformasi yang dibangun dari kesepatan bersama dua puluh tahun silam terkesan mulai tergerus oleh kepentingan para pihak, Perubahan yang didambakan oleh rakyat Indonesia sebuah sistim demokrasi semakin buruk, hal tersebut terlihat lemahnya proses penegakan hukum, terkesan tebang pilih, khususnya terkait dengan peraturan kampanye.

Seharusnya pesta demokrasi merupakan sebuah pesta rakyat, karena lima tahun sekali  rakyat diberi hak untuk memilih calon pemimpinya sesuai hati nurani rakyat, para pihak sebagai peserta dan tim pemenangan hanya memfasilitasi dan mensosialisasikan program calon. lalu rakyatlah yang menentukan pilihannya. ( aba )