Keturunan Marhum Pekan Telah Muncul Kembali

Keluarga Tengku H. Ir. Amir Ahmad Abdul Djalil Muazzam Syah

Wasiatriau.com ( DMI ) – Tengku H. Ir. Amir Ahmad Abdul Djalil Muazzam Syah adalah salah satu keturunan raja ke 5 kerajaan Siak Sri Indrapura, Sultan Tengku Muhammad Ali Abdul Djalil Muazzam Syah.

Diketahui raja ke 5 tersebut yang mendirikan kota pekanbaru, beliau meneruskan teraju kepemimpinan Ayahnda beliau raja ke 4 Sutan Alamuddin Abdul Djalil Muazzam Syah. sehingga raja ke 5 digelar oleh masyarakat Pekanbaru dengan sebutan marhum pekan, sedangkan Ayahnda beliau digelar Marhum Bukit.

Masyarakat pekanbaru maupun dari luar daerah ramai yang berkunjung ke komplet makam Raja yang terletak dijalan Senapelan, berdasarkan pantauan awak media, sebelum mereka berziarah ke makam tersebut, biasanya mereka sholat di Mesjid Nur Alam yang ada disamping makam raja.

Berdasarkan catatan silsilah nasaf, bahwa Tengku H.Ir. Amir Ahmad merupakan keturunan ke 6 dari Marhum Pekan, dan keturunan ke 9 dari Raja Kecik, pendiri kerajaan Siak Sri Indrapura, Sultan Abdul Djalil Rahmat Syah 1723 M.

Menurut keteangan Tengku Amir Ahmad, Raja ke 4 Sultan Alamuddin Abdul Djalil Muazzam Syah memiliki 6 orang anak, 2 orang putera dan 4 orang putri, antara lain: 1. Sultan Tengku Muahammad Ali Abdul Djalil Muazzam Syah, 2. Raja Akil, 3. Tengku Embung Badariah, 4. Tengku Sukma, 5. Tengku Mas Ayu dan 6. Tengku Hawi.

Oleh karena Anaknda Raja ke 4 yang pertama adalah Tengku Muhammad Ali Abdul Djalil Muazzam Syah, setelah sampai saatnya, maka beliaulah secara adat istiadat diraja cikal bakal yang berhak meneruskan teraju kepemimpinan, dinobatkan menjadi raja kerajaan Siak Sri Indrapura ke 5.

Diketahui bahwa yang pertama membuka daerah pekanbaru menjadi pusat kerajaan ialah Raja ke 4, Sultan Abdul Djalil Alamuddin Muazzah Syah, 1766 – 1780, beliau memindahkan pusat kerajaan dari mempura ke Senapelan, Pekenbaru, sekitar pada tahun 1767 M.

Pemindahan pusat Pemerintahan  ke Senapelan, Pekanbaru ( red ),  Maksud dan tujuan adalah agar dibukanya pusat perdagangan baru yang lebih dekat dengan daerah-daerah penghasil barang dagangan. Oleh karena itu, kemudian dibuka pekan di bandar Senapelan, dan disebut Bandar Pekan, yang akhirnya berubah lagi menjadi Pekanbaru.
Dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dan memperbesar pusat perdagangan tersebut, maka terbuka lebar jalur perdagangan antara Senapelan dengan daerah-daerah penghasil  lada, gambir dan hasil hutan lainnya. Perdagangan yang telah dirintis sebelumnya juga dikembangkan dan dipelihara. Selain itu, bagi daerah-daerah taklukan wajib membayar upeti kepada Siak. Langkah lain yang dilakukan dalam proses pengurusan upeti dagang ini adalah dengan cara mengangkat pembantunya sebagai perwakilan sultan di daerah takluk kerajaan Siak Sri Indrapura.
Semasa kepemimpinan Raja Ke 5, Sultan Tengku Muhammad Ali Abdul Djalil Muazzam Syah 1780 – 1782 M. beliau meneruskan perjuangan Ayahndanya dengan mendirikan Pekan Baharu, yaitu sebuah pasar baru sebagai pusat perdagangan masyarakat, dan nama pekan baharu berubah menjadi Pekanbaru sampai hari ini.
Namun setelah Raja ke 5 digantikan dengan saudaranya Sultan Yahya Abdul Djalil Muzafar Syah 1782 – 1784 M. kononya pusat pemerintahan kembali ke Mempura, Siak Sri Indrapura dan akhirnya ke kota tinggi Siak hingga kesultanan Sultan Syarif Kasim II 1946.
Dalam rentang waktu yang panjang, nama raja ke 4 marhum bukit dan raja ke 5 marhum pekan tetap dikenang oleh masyarakat pekanbaru, malah hari ulang tahun kota pekanbaru diperingati berdasarkan tahun berdirinya kota tersebut oleh Raja marhum bukit dan marhum pekan. 1766 – 1782 M.
Namun selama 200 tahun lebih, tidak pernah disebut tentang keturunan Marhum Pekan tersebut, sementara marhum pekan mempunyai 1 orang adik laki laki dan 4 orang adik perempuan. begitu juga dalam buku sejarah budayawan Riau, juga  belum ditemukan nama nama keturunan adik beradik marhum pekan.
Catatan sejarah kerajaan Siak Sri Indrapura hanya menuliskan nama Tengku Embung Badariah, beliau adalah saudara perempuan dari marhum pekan., bahwa Tengku Embung badariah keturunan bangsawan Siak Sri Indrapura berkawin dengan seorang keturunan Arab yang benama Syarif Ali dan dinobatkan menjadi Raja yang bergelar Sultan al-Sayyid al-Sharif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Ba’alawi (1784–1810) dan dari sinilah cikal bakal penerus kerajaan siak Sri Indrapura, Perpaduan antara Adat Melayu keturunan Raja Siak dari pihak Perempuan dengan Adat arab dari pihak laki laki.
Baru sekitar 3 tahun lebih, Keturunan zuriat raja ke 5 muncul kepermukaan, berawal dari Tengku H. Ir. Amir Ahmad Abdul Djalil Muazzam Syah, salah seorang keturunan zuriat raja ke 5 tersebut mendapat isyarat isyarat untuk merajut kembali tali yang terputus tersebut. dan pada tahun 2018 yang lalu, beliau di istiharkan oleh Lembaga Adat Melayu Riau ( LAMR ) Provinsi Riau sebagai pemegang Daulat keturunan raja kerajaan Siak Sri Indrapura, pengistiharan tersebut bersmaan dengan acara penabalan pengurusan LAMR Kota Dumai yang di Istiharkan oleh Majelis Kerapatan Adat ( MKA ) LAMR Provinsi Riau, di gedung LAMR Kota Dumai.
Sebenarnya beliau tahu bahwa beliau keturunan dari Marhum Pekan, hal itu berdasarkan cerita datuk nenek beliau, begitu juga dengan keturunan zuriat raja kerajaan siak sri Indrapura yang ada di luar negeri seperti Berunai Darussalam dan Malaysia. mereka tahu asal usul mereka sesuai amanah yang diceritakan dari orang tua mereka dan cerita itu berantai kepada keturunanya sampailah saat ini ( red ).
Setelah mendapat Isyarat yang digerakan, dengan semangat yang kuat dan tekad yang bulat, lalu beliau mulai mencari rekam jejak perjalanan sejarah marhum pekan, menurut cerita atuk nenek beliau, keturunan zurit marhum pekan ada disejumlah negeri, seperti  di Kalimantan barat dan Negara Berunai serta Malaysia.
Beliau mulai napak tilas mencari sanak keluarga keturunan zuriat beliau di Kalimantan barat, dengan izin Allah swt, beliau dengan mudah bertemu dengan keturunan beliau yang ada di kalimantan, tepatnya di kampung serasan. disana mereka membuka perkampungan baru saat itu dan berkembang menjadi sebuah keluarga besar.
Berbagai cara Tengku Amir Ahmad mencari keturunan beliau dan akhirnya bertemu dengan keturunan zuriat di negara Berunai, malah bukan keturunan zuriat marhum pekan, tapi beliau juga berjumpa dengan keturunan zuriat Raja Akil, adik marhum pekan yang merantau dan membuka perkampungan baru diberi nama kampung Pinggai, Raja akil beranak pinak di negera berunai, dan dari keturunan marhum pekan dan Raja akil yang bernama Dayang Faida menjadi Permaisuri raja Berunai ke 12 begitu juga keturunan zuriat raja ke 5 tersebut ramai yang menjadi pembesar di Negara Kerajaan Benurai Darussalam.
Gayung bersambut, selama ini tak pernah masyarakat pekanbaru maupun pemerintah kota Pekanbaru merayakan hari ulang tahun marhum pekan, tiba tiba tergerak hati masyarakat pekanbaru yang diterajui oleh Lembaga Adat Riau ( LAMR ) Kota Pekanbaru memperingati Haol Marhum Pekan yang julung kali pada bulan November tahun 2018, disaat itu pulalah pertama sekali Keturunan Zuriat Marhum Pekan berkumpul, ikut menghadiri Haol marhum Pekan tersebut.
Saat itu Keturunan zuriat Marhum Pekan tidak ramai yang datang, 3 orang utusan dari Negara Berunai, beberapa orang dari Negara Malaysia dan Tengku Amir Ahmad dan serta rombongan dari Dumai.
Mereka disambut dengan penuh hormat, layaknya sebagai tamu kehormatan oleh panita pelaksanan Haol Marhum Pekan, sebelum hari pelaksanaan,  Panitia mengadakan jamuan makan malam bersama keturunan Zuriat Marhum Pekan di Balai Kerapatan Adat LAMR Kota Pekanbaru,  dalam prosesi jamuan makan malam diisi dengan ucapan sekapur sirih berbalas sambutan antara panitia pelaksana yang dipimpin langsung Ketua panitia Haol dan disambut ucapan terima kasih sambutan dari keturunan Marhum Pekan yang disampaikan langsung oleh Tengku Amir Ahmad selaku ketua Rombongan dan ditutup dengan Doa selamat oleh utusan keturunan zuriat marhum pekan dari Negara Berunai Darussalam H. Abdullah.
Suana pertemuan jamuan makan malam berlangsung Hikmat dan penuh rasa keakraban,  terlihat dengan penuh mesra mereka bercengkrama antara satu dengan yang lain, meraka saling berbagi informasi, berbaur menjadi satu seakan akan mereka sudah berkenal lama.
Meskipun dari warna pakaian berbeda, karena rombongan keturunan zuriat marhum pekan tersebut berpakain adat melayu serba kuning kuning. namun tidak terlihat perbedaan satu dengan yang lainya, mereka lebih elegan dan familiar selama acara jamuan makan malam tersebut.
Pada peringatan Haol Marhum pekan yang diadakan dihalaman mesjid Raja, Mesjid Nur Alam di Senapelan, Pekanbaru, Rombangan keturunan zuriat marhum pekan ditempatkan barisan undangan VIP bersama dengan Gubernur terpilih saat itu, Samsuar dan Walikota Pekanbaru H. Firdaus ST.MT serta sejumlah tokoh Masyarakat Riau. sekali lagi terlihat awak media wasiatriau.com hanya rombongan keturunan zuriat marhum pekan yang memakai pakaian adat melayu berwarna kuning kuning.
Disela sela pidato Walikota Pekanbaru Firdaus ST. MT menyampaikan ucapan selamat datang kepada keturunan Marhum Pekan, begitu juga Gubernur terpilih Syamsuar berjanji akan meneruskan pembangunan Komplet raja yang menjadi tonggak sejarah kota Pekanbaru tersebut.
Apalgi Gubernur terpilih mengaku bahwa beliau juga ada kaitan dengan keturunan Raja Siak, begitu juga Walikota Pekanbaru menyebutkan bahwa beliau adalah keturunan datuk datuk Kerajaan Siak dari Kampar.
Melihat dari sambutan Masyarakat Adat Melayu Riau dan Pemerintahan Riau terhadap kehadiran keturunan Marhum Pekan tersebut pada helat Haol Marhum Pekan, menjadikan tonggak sejarah baru munculnya kembali keturunan marhum pekan,Raja yang mendirikan kota Pekanbaru.
Keturunan zuriat marhum pekan sekali lagi datang berkumpul di negeri nenek moyangnya pada 9-10 Maret 2019,  sekitar 80 orang berkumpul di mesjid raja Nur Alam mengadakan khatam Al Quran dan berziarah ke makam Marhum bukit dan marhum Pekan di komplet makam Raja bukit senapelan Pekanbaru.
Mereka datang dari berbagai Negara, seperti dari Negara Berunai Darussalam, sejumlah  Negara bagian Malaysia darn dari Dumai, Bengkalis Riau.
Rombongan Keturunan zuriat marhum pekan sekali lagi di undang jamuan makan malam, kali ini jemputan dari Walikota Pekanbaru. terpantau disaat prosesi jamuan makan malam tersebut diisi dengan rangkaian kegiatan, diawali dengan kata sambutan dari Walikota Pekanbaru H. Firdaus ST.MT, dan ucapan sekapur sirih ketua Rombongan Tengku H.Ir.Amir Ahmad, turut memberi sambuta utusan negara berunai keturunan Raja Akil, juga ikut memberi sambutan utusan dari Johor, keturunan Raja Johor Sultan Mahmud, Ayahnda Raja Kecik Siak, dan beliau keturunan zuriat Raja Buang Asmara adik dari Raja Alam yang digelar Marhum Bukit, dan doa dipimpin keturunan zuriat marhum pekan dari Negara Berunai Darussalam.
Dalam untaian acara jamuan makan malam Walikota Pekanbaru juga menggelar acara tepuk tepung tawar kepada Keturunan zuriat marhum pekan, saat acara tersebut juga disaksikan rombongan keturunan Laksamana Hangtuah dari Malaka dan dihadiri sejumlah masyarakat Riau serta pejabat dilingkungan kota Pekanbaru.
Suasana prosesi tepuk tepung tawar terkesan berlangsung hikmat, terpancar aroma budaya Melayu yang Islami, kenapa tidak, sebab disaat acara tepuk tepung tawar dimulai, terdengan lantunan irama syair syalawat nabi Muhammad saw yang dibawakan oleh komunitas srikandi melayu  Asia yang dipimpin oleh datin Ayang bersama Datin Raja Susi.
Usai tepuk tepung tawar, Walikota Pekanbaru bertukar cendramata dengan Tengku H. Ir. Amir Ahmad dan sekaligus Tengku Amir menyerahkan Prangkat Silsilah Nasaf keturunan zuriat marhum pekan kepada Walikota pekanbaru, penyerahan secara simbolis tersebut sebagai tanda bahwa keturunan zuriat marhum pekan sudah muncul kembali. Demikian pantauan wasiatriau.com  ( aba )