Negeri Junjungan Berduka, Pemimpinnya Tersandung Korupsi


Wasiatriau.com – Malang sungguh nasib negeri Junjungan. Pasalnya mengharapkan pemimpinya menjaga dan memakmurkan rakyat negerinya,  ternyata tersandung kasus korupsi.

Apalagi yang nak diharapkan kepada orang yang dililit masalah, jangankan mengurus negeri, mengurus diri sendiri saja susah.

Begitulah nasib negeri Melayu yang kaya raya saat ini, jika boleh diistilahkan kepada negeri yang terkenal dengan ikan terubuk tersebut, kata pepatah orang tua Melayu ” Tuah ada sial menanti “.

Negeri ini adalah negeri bertuah, kenapa tidak, sebab negeri ini adalah negeri kaya, minyak diatas, minyak dibawah, hasilnya melimpah ruah, sedangkan APBD sekitar 3 teriliun lebih tidak habis dipakai, maaf, bisa dikatakan muntah menghabiskannya.

Karena negeri ini kaya raya dan hasilnya melimpah ruah jika dibandingkan dengan kabupaten kota lain yang ada di provinsi Riau ini, makanya pantas negeri ini disebut negeri bertuah. Karena ada kelebihan yang dikaruniai oleh Allah swt.

Sehurusnya negeri yang kaya raya ini tidak ada lagi rakyatnya yang miskin dan melarat jika pemimpin negeri ini pandai dan bijak bistari, tapi apalah daya, selama 20 tahun lebih sejak berdirinya otonomi daerah, dan diamanahkan kepada daerah otonom agar mampu merekayasa untuk mengelola sumber daya alam sebesar besarnya untuk kemaslahatan rakyat, namun sampai hari ini belum terwujud, masyarakat  kabupaten Bengkalis terus berjuang dan berdoa pada sang pencipta langit dan bumi, agar negeri ini senantiasa dilimpahkan Rahmat. Begitu juga dengan pemimpin negeri ini, setiap 5 tahun sekali mereka mencari dan memilih pemimpin yang terbaik melalui pilkada dan sesuai dengan sistem yang dianut bangsa ini yaitu sistem demokrasi.

Mereka bertungkus lumus mensukseskan agar calon mereka menang, duduk dikursi oleh nomor satu di negeri Junjungan, tidak sedikit orang berselisih paham dengan Jiran.tetangga sebelah karena beda pilihan mereka, begitulah semangat rakyat untuk memenangkan calon mereka, malah ada juga yang berkorban harta, tenaga waktu dan perasaan demi memperjuangkan calon pemimpin mereka. Dengan harapan hanya satu mereka berharap mendapat pemimpin yang amanah, dan mampu melakukan perubahan, sehingga negeri dan rakyatnya sejahtera.

Kali ini negeri Bengkalis berduka, meratapi nasibnya karena melihat para pemimpinya terjerat kasus korupsi,  sudah tidak mampu bekerja secara maksimal mengurus negeri bertuah ini, sedangkan masyarakat negeri Junjungan ini masih banyak dibawah garis kemiskinan,dan begitu juga pembangunan fisik jalan yang belum tuntas berdasarkan rencana strategis ( Renstra ) pembangunan jangka menengah kabupaten Bengkalis yang telah dicanangkan bupati Bengkalis periode 2016 – 2021.

Diketahui beberapa waktu yang lalu bupati Bengkalis sudah mencanangkan rencana pembangunan jangka menengah sampai tahun 2021.

Untuk tahun 2018, arah pembangunan fisik akses jalan diprioritaskan pada sejumlah  kecamatan, seperti pinggir, Mandau, batin Solapan dan jalan lingkar lainnya, dan telah terealisasi pada tahun 2019 dan sampai saat pengerjaan proyek pembangunan fisik jalan sedang berlangsung.

Jlka nasib tidak menyebelahi rakyat negeri Junjungan, kedua pemimpin yang telah berstatus tersangka  menjalani persidangan, bagaimana nasib rakyat dan negeri ini jika dikendalikan Plt yang diutus dari pemerintah provinsi Riau, apakah mau melanjutkan program RPJM yang telah ditetapkan oleh Bupati Bengkalis tersebut atau Plt hanya melaksanakan tugas rutin dan tidak bisa membuat kebijakan bersifat strategis. Sedangkan RPJM yang telah dirancang oleh pemerintah kabupaten Bengkalis untuk kesejahteraan masyarakat dan daerah Bengkalis itu sendiri.( aba )