Masyarakat Pertanyakan Surat Tanah Asli yang Dititipkan Sementara ke Perusahaan PT EkJ


Wasiatriau.com ( DMI ) Masyarakat pemilik tanah  pertanyakan surat tanah asli mereka yang dititipkan ke salah satu perusahaan PT. Era Karya Yatayumas ( EKJ ). Pasalnya sudah hampir sepuluh tahun lebih tidak kunjung selesai pembayaran ganti rugi. Ujar abu Kasim pada awak media, Sabtu ( 18/01/2020 )

Perusahaan EKJ sudah tidak menempati janjinya kepada masyarakat pemilik tanah, padahal pihak perusahaan berjanji akan membayar ganti rugi pembebasan lawan sawit warga untuk pembangunan pabrik sawit tersebut, sudah sepuluh tahun lebih pembayaran ganti rugi tak kunjung selesai. Ujar Beliau disela sela pemasangan plang nama tanah milik warga di jalan melati RT 09 kelurahan Tanjung penyembal kecamatan sungai sembilan, kota Dumai.

Setelah sekian lama Masyarakat pemilik tanah menunggu pembayaran ganti rugi dari perusahaan EKJ tak kunjung selesai. Akhirnya masyarakat pemilik tanah ramai ramai turun ke lokasi tanah milik mereka memasang plang nama tanah milik mereka masing masing.

Menurut Abu Kasim, menyebutkan diduga surat asli milik masyarakat yang titipkan kepada perusahaan EKJ dulunya sudah berpindah nama, tanpa pemberitahuan lagi kepada pemilik tanah pertama masyarakat pemilik tanah. Malah dalam surat tanah itu ada tanda tangan pemilik tanah pertama. Terangnya.

Sementara pemilik tanah merasa tidak pernah diberitahukan menanda tangani surat pemindahan surat tanah kepada pihak lain. Tapi yang herannya kenapa pemindahan surat tanah bisa terbit. Ujar abu Kasim agak heran

Menurut beliau menjelaskan kronologis penyerahan surat asli tanah masyarakat kepada perusahaan PT. Era karya Yatayumas ( EKJ ) pada tanggal 27 September 2009 yang lalu melalui perjanjian dan surat serah terima antara kedua belah pihak,disaksikan RT 09, Supriadi dan warga Edy Suratno, dan diketahui oleh kepala kelurahan Tanjung Penyembal, Soufandi Souhan, dan ditandai tangan. Jelas Abu Kasim, kebetulan beliau adalah ketua kuasa masyarakat pemilik tanah tersebut.

Tambah Abu kasim lagi yang akrab disapa kasim menerangkan pada awak media, bahwa penyerahan surat tanah asli milik masyarakat, berbunyi ” tanda terima titipan sementara surat tanah asli “.

Sudah diterima : Tim pembebasan lahan pembangunan kelapa sawit di jalan melati RT 09, kelurahan Tanjung Penyembal kecamatan sungai sembilan, dumai.

Barang bukti : Surat tanah asli milik masyarakat terkena ganti rugi untuk pembangunan pabrik kelapa sawit di kelurahan tanjung penyembal kecamatan sungai sembilan, sebanyak 104 surat tanah asli.

Dengan keputusan :

1. Surat tanah asli tersebut dititipkan sementara kepada pihak perusahaan PT. Era Karya Yatayumas ( ekj ), sampai waktu yang telah disepakati bersama yaitu selama 6 bulan.

2. Jika tidak dibangun selama waktu 6 bulan, maka pihak perusahaan  PT. Era Karya Yatayumas ( EKJ ) harus mengembalikan surat tanah tersebut kepada tim pembebasan tanah masyarakat

3. Jika surat dititipkan hilang atau rusak, maka menjadi tanggung jawab perusahaan PT. Erakarya Jatayumas.

Dikeluarkan di dumai, 27 September 2009, yang menerima atas nama PT. Erakarya Jatayumas, perwakilan perusahaan Masyudin Marpaung. Sedangkan yang menyerahkan ketua Tim pembebasan Muhamad Nuh, ditandangani dan sudah dilegis di notaris.

Masih ucapan Kasim, ” jika kita simak jangka waktu titipan sementara surat asli milik masyarakat selama 6 bulan dan jika tidak dibangun, maka harus dikembalikan kepada tim pembebasan tanah masyarakat dan jika surat tersebut hilang atau rusak, maka menjadi tanggung jawab perusahaan “.

Dari perjanjian disaat penitipan sementara surat tanah asli tersebut, pihak perusahaan telah tidak menepati janjinya, karena sudah melebihi 6 bulan, sampai hari ini (red,)  janji tersebut tidak terealisasi, dan jika dihitung tanggal penitipan sementara surat tanah asli, tanggal 27 September 2009, sampai dengan hari Sabtu, tanggal 18 Januari 2020,  artinya suat asli tersebut ditangan perusahaan yang dititipkan sementara sudah hampir sepuluh tahun lebih. ” Kami masyarakat pemilik tanah hanya meminta kejelasan dari pihak perusahaan terhadap surat asli yang dititipkan, kembalikan surat asli kami, karena sudah melebihi target jangka waktu yang disepakati bersama selama 6 bulan,”.

” Jika surat tersebut hilang atau rusak, maka perusahaan harus bertanggung jawab “. Tegas kasim.

Kasim juga merasa heran, bukannya pihak perusahaan bertanggung jawab untuk mengembalikan surat tanah asli milik masyarakat, tapi kenapa ada terbit surat baru,  sementara pemilik surat asli tidak tahu dan malah ada tanda tangan pemilik pertama. Sebutnya agak heran. Demikian ujar kasim mengakhiri. ( aba )