Mahathir Ditinggalkan, Mahyuddin Dilantik Jadi PM Malaysia


 

Wasiatriau.com ( Malaysia ) -Melihat dari dinamika politik negara Malaysia saat ini memang tidak sejalan dengan petua orang terdahulu, ” siapa yang berbuat, dia yang menuai “. Tapi persis sama dengan istilah ” lain sorong lain galang “. Atau bisa juga disebut, ” menyalip ditikungan “,  atau, bisa juga dikatakan ” menanggk di air keruh “. dan bisa juga ” gunting dalam lipatan”. Terserah pembaca yang mana lebih padan benang merah dinamika politik di negara Malaysia tersebut.

Hal itu Jika dilihat perebutan kursi perdana menteri Malaysia,  Lain yang berjuang,  tapi orang lain yang memetk hasilnya.Demikian pantauan awak media.

Mahathir Muhammad dari kelompok partai oposisi memenangkan pemilu tahun 2019 yang lalu melawan partai yang berkuasa ( UMNO )saat itu, namun setelah berjalan beberapa bulan teraju kepemimpinan yang dipimpin mahathir Muhammad sebagai perdana mentrme yang sah

Pengikhtirafan dari raja Malaysia kepada Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri Malaysia tersebut setelah dua hari dinyatakan pemenang suara partai yang dipimpinnya pada pemilu negara Malaysia.

Namun, dalam perjalanan pentakbiran  pemerintahan perdana menteri Mahathir Mohammad, alih alih Mahyuddin yasin yang dilantik raja Malaysia menggantikan Dr. Mahathir Mohamad.

Diketahui bahwa Mahathir Mohammad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri mMalaysi tersebut,  dan informasi akan digantikan kepada kawan seperjuangan beliau saat kampanye tahun 2019 yang lalu. Namun setelah seminggu kemudian, nama Mahyuddin yang keluar sebagai pengganti Mahathir Mohammad.

Setelah keluarnya nama Mahyuddin Yasin sebagai perdana menteri Malaysia. Sontak ditolak keras masyarakat Malaysia, kenapa tidak, sebab yang dipilih rakyat Malaysia Mahathir Mohammad, bulan Mahyuddin.

Aksi protes masyarakat Malaysia tersebut juga disiarkan sejumlah TV swasta, media cetak dan media online.

Sementara masyarakat internasional juga mengikuti perkembangan politik negara kerajaan Melayu tersebut, karena dianggap menarik untuk diikuti dinamika politik yang sedang berlangsung, sebab negeri tersebut menganut sistem demokrasi, bukan sistem monarki murni, seperti memilih pemimpin pemerintahan dan dewan dipilih langsung oleh rakyat melalui partai peserta pemilu.

Sementara pengangkatan jabatan perdana menteri menjadi wewenang raja kerajaan Malaysia,  tapi kenapa kali ini penunjukan perdana menteri oleh raja yang berkuasa bukan orang pemenang pemilu yang sah dan yang dipilih oleh rakyatnya, tapi orang lain yang menjabat sebagai perdana menteri Malaysia menggantikan Mahathir Mohammad.

Sedangkan anwar Ibrahim selaku kawan seperjuangan yang telah berhasil meraih suara terbanyak memenangkan pemilu tahun 2019 yang lalu,  yang disebut sebut bakal menggantikan Mahathir Mohammad.

Menurut informasi yang beredar bahwa pra pemilu negara Malaysia, sejumlah tokoh politik senior Malaysia bergabung untuk melawan umno partai penguasa saat itu, seperti nama Mahathir Mohammad, Anwar Ibrahim dan beberapa nama lainya. Malah terdengar isu yang berkembang, bahwa jika menang gabungan partai pembangkang malawan umno Mahathir Mohammad yang menjadi perdana menteri Malaysia, namun hanya sementara waktu dengan alasannya untuk merebut kekuasaan dari pemimpin yang korupsi, lalu pengganti beliau adalah Anwar Ibrahim.

Dinamika politik di negeri Melayu tersebut terkesan makin panas setelah Mahyuddin dianggap mengkhianati mahathir dalam pakatan tingkat tinggi. Sontak menjadi sorotan media, seperti apa yang dilangsir media nasional. Kompas.com

Krisis politik Malaysia semakin memanas memasuki hari ketujuh. Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad dengan terbuka menyerang mantan sekutu politiknya, Muhyiddin Yassin yang akan disumpah menjadi orang nomor satu negeri “Jiran” hari ini, Minggu (01/03/2020)

“Saya dikhianati oleh Muhyidddin. Dia telah menyusun rencana ini dan sekarang dia sukses.” kecam politisi berjuluk Dr. M itu, Minggu pagi (01/03/2020) seperti dilansir Malaysia Kini.

Mahathir melanjutkan kubu pecundang yang dipimpin Muhyiddin akan membentuk pemerintahan baru. “Ini sungguh aneh. Pemenang malah akan jadi oposisi.”

Politisi kawakan berusia 94 tahun itu juga menceritakan Muhyiddin melobinya untuk bergabung dengan koalisi barunya yang akan didukung kubu oposisi Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam Se-Malaysia (PAS).

Mahathir menolak ajakan tersebut karena dia tidak ingin bekerjasama dengan mantan kendaraan politiknya UMNO yang disebutnya korup dan dikuasai kleptokrat

Saling klaim mayorita

Diperlukan 112 kursi untuk mencapai mayoritas di parlemen Malaysia. Untuk mencapai mayoritas di parlemen Malaysia, dibutuhkan 112 anggota parlemen yang mendukung.

Dalam perolehan kemenangan Mahathir sendiri, merujuk pada 113 anggota parlemen yang telah menandatangani pernyataan tertulis berisi dukungan terhadap Mahathir sebagai PM dari koalisi Pakatan Harapan.

Seluruh pengamat politik dunia memantau dinamika perpolitikan negeri jirJi tersebut, menunggu pergerakan apa yang dilakukan Mahathir Mohammad dan kawan kawan beliau kedepannya. Demikian pantauan awak media wasiatriau.com